Perkebunan Kelapa Sawit dan Kebakaran Hutan di Indonesia

Latar belakang

Hampir setiap tahun kita dihadapkan permasalahan yang sama yakni kabut asap akibat kebakaran hutan. Anehnya, kebakaran hutan dan lahan lebih sering terjadi di sumatera, Riau dan kalimantan, dimana wilayah tersebut merupakan wilayah gambut dan terbanyak perkebunan kelapa sawit.

Tidak bisa dipungkiri hampir sebagian besar kebakaran hutan dilakukan secara sengaja oleh pihak-pihak tertentu dengan alasan lebih hemat biaya saat lahan hutan diganti dengan tanaman lain. Tidak hanya didalam negeri yang merasa dirugikan akibat kebakaran hutan ini, negeri jiran seperti malaysia dan singapura tidak jarang menyuarakan protes mereka terhadap kabut asap yang berasal dari indonesia.

Menurut data BNPB yang dikutip dari katadata, kebakaran hutan dan lahan di indonesia sepanjang Januari hingga Agustus 2019 mencapai 328.724 hektare. Adapun wilayah yang paling luas lahan terbakar di provinsi Riau mencapai 49.266 hektare, sedangkan wilayah kalimantan yang terdiri dari  Kalimantan Tengah 44.769 hektare, Kalimantan Barat 25.900 hektare dan  Kalimantan selatan 19.490 hektare.

Wilayah sumatera selatan, luas lahan dan hutan yang terbakar mencapai 11.826 hektare dan Provinsi Jambi mencapai 11.022 hektare.

Sedangkan menurut data Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) yang dikutip dari cnnindonesia menyebutkan jumlah kebakaran hutan dan lahan yang terjadi di Oktober 2019 meningkat hingga 80,29% dari periode yang sama tahun 2018. Tercatat hingga september 2019 ada sebanyak 7.354 titik api, sementara diperiode yang sama 2018 sebanyak 4.079 titik. Dengan demikian terjadi peningkatan sekitar 3 .279 titik api.

Menurut tirto, setelah meninjau bersama BNPB, Panglima TNI dan Kapolri, menggunakan Helikopter, Kapolri Tito justru heran tidak melihat tanaman sawit dan industri ikut terbakar. Walaupun ada jumlahnya hanya sedikit.

Hal ini menunjukkan adanya “land clearing” yakni memanfaat musim kemarau terkait dugaan kebakaran hutan dan lahan.

Sedangkan KLHK mengatakan telah menyegel sebanyak 42 perusahaan yang diduga sebagai dalang kebakaran hutan dan lahan yang berada di jambi, Riau, Sumatera selatan, Kalimantan barat dan kalimantan tengah.

Perkebunan Kelapa Sawit di Indonesia

Hingga sekarang indonesia masih menduduki eksportir kelapa sawit terbesar di dunia, disusul malaysia, thailand, kolombia dan nigeria. Menurut data yang dikutip dari katadata, selama tahun 2018 luas perkebunan kelapa sawit indonesia mencapai 14,3 juta hektare. Dimana 7,7 juta ha atau 54% dari total luas lahan dikuasai oleh perusahaan swasta. Sedangkan luas perkebunan rakyat 5,8 juta hektare atau 41,% dari total keseluruhan. Sementara total lahan yang dikuasai BUMN mencapai 715 ribu hektare atau sekitar 5 % dari total perkebunan sawit di indonesia.

Menurut data BPPS, lahan perkebunan kelapa sawit indonesia terus meningkat, setidaknya sejak tahuan 2000-an.

Luas area kelapa sawit menurut provinsi di indonesia 2015-2019

Provinisi

Pertumbuhan 2017 over 2016 (%)

2015

2016

2017

2018

2019**)

 

Aceh

428.216

370.076

534.245

547.123

566.378

44,36

 

Sumatera utara

1,427,021

1,342,523

1,706,135

1,745,900

1,773,049

27.08

 

Sumatera barat

383,385

378,440

478,317

492,666

508,974

26.39

 

Riau

2,400,876

2,012,951

2,703,199

2,739,571

2,806,349

34.29

 

Kepualauan Riau

19,013

7,409

23,714

24,041

24,834

220.07

 

Kepualauan bangka belitung

211,082

232,214

263,343

266,928

275,131

13.41

 

Bengkulu

288,914

285,096

360,448

366,731

377,052

26.43

 

Lampung

207,868

199,470

259,339

267,773

278,110

30.01

 

DKI Jakarta

 

Jawa Barat

14,083

17,294

17,420

17,622

17,907

0.73

 

Banten

19,284

19,448

20,258

20,631

20,989

4.16

 

Jawa Tengah

 

DI.Yogyakarta

 

Jawa Timur

 

Bali

 

Nusa tenggara Barat

 

 Nusa Tenggara Timur

 

Kalimantaran barat

1,144,185

1,264,435

1,504,787

1,532,598

1,570675

19.01

 

Kalimantan tengah

1,142,004

1,288,128

1,480,988

1,512,339

1,532,734

14.97

 

Kalimantan selatan

421,068

553,144

587,799

592,425

605,449

6.27

 

Kalimantan timur

849,609

1,021,314

1,059,990

1,083,286

1,107,437

3.79

 

Kalimantan utara

157,426

50,347

249,952

251,870

258384

396.46

 

Sulawesi utara

 

Gorontalo

11,138

5,992

17,280

17,766

18,494

188.38

 

Sulawesi Tengah

151,122

158187

188,534

189,461

191102

19.18

 

Sulawesi selatan

51,704

55,707

64,498

65360

66,798

15.78

 

Sulawesi barat

108154

150,309

188,648

196,625

205251

25.51

 

Sulawesi tenggara

45,759

69,029

71,129

71535

74900

3.04

 

Malu

10,050

10,054

12531

13,639

14,565

24.64

 

Maluku Utara

5,525

6,920

 7,676

 

Papua

50,834

 85,033

11,2638

11,7736

12,5606

32.46

 

Papua barat

50,999

59,680

85,543

91,536

97,459

43.34

 
 

Indonesia

11,260,277

    11,201,465

14,048,722

14,327,093

14,677,560

25.42

 

Dari potensi ekonomi, menurut kementan sepanjang 2018 produksi cpo indonesia mencapai 41,67 juta ton. Dari jumlah tersebut minyak kelapa sawit indonesia (crude palm oil/cpo) berhasil di ekspor sebesar 34 juta ton atau sekitar 270 T. Tujuan Ekspor CPO indonesia meliputi India, Eropa, cina, Pakistan, Bangladesh, dan negara – negara lainnya.

Dampak sosial ekonomi perkebungan kelapa sawit terhadap petani

Hasil perkebunan kelapa sawit tidak hanya mendatangkan devisa bagi negara lewat ekspor cpo tetapi lebih dari itu. Menurut hasil kajian bpdp.or.id, sektor perkebunan kelapa sawit merupakan sumber pendapatan dan penyedia lapangan kerja. Sejak perluasan perkebunan kelapa sawit pada tahun 1990 (1.126.677) menjadi 14,03 juta ha di tahun 2015. Dengan peningkatan perluasan tersebut telah menyerap tenaga kerja sebanyak lebih dari 16 juta orang  yang terdiri dari 12 juta orang di sektor industri dan 4 juta orang sebagai pekerja langsung.

Dari sisi pendapatan, hasil kajian PABSI (2014) dan World Growth (2011) menunjukkan hasil perkebunan kelapa sawit mampu menurunkan tingkat kemiskinan khususnya daerah pedesaan. Hasil kajuan tersebut menunjukkan ekonomi petani sawit lebih tinggi bila dibandingkan dengan ekonomi petani non sawit, dan tumbuh dengan pesat.

Kajian ini dilakukan di beberapa provinsi seperti sumatera utara, sumatera barat, riau, jambi, sumatera selatan, lampung, kalimantan selatan, dan kalimantan timur. Kajian ini dilakukan di akhir tahun 2016, dengan tujuan untuk menganalisis dampak kesejahteraan secara makro yang mencakup:

  • Perbandingan penghasilan petani sawit dengan petani non sawit
  • Perbandingan tingkat kemiskinan daerah sawit dan non sawit dan
  • Perbandingan IPM daerah perkebunan sawit dan non sawit.

Hasil fact finding menunjukkan sebagai berikut:

Tahun 2015, total lahan perkebunan kelapa sawit seluas 11,300,370 ha, rata-rata peningkatan sekitar 6,93% pertahun sejak tahun 2000. dari total luas lahan tersebut sebanyak 40,49 diusahakan atau dimiliki perkebunan rakyat (PR). Peningkatan ini perkebunan ini turut di dukung pemerintah melalui program PIR, yang merubah komposisi dari dominasi perkebunan negara pada tahun 1980-an menjadi menjadi perkebunan besar swasta & rakyat sejak tahun 2015

Sumber BPS indonesia
  • Program pemerintah lewat PIR tersebut dirasa belum mencukupi karena tidak diikutir dengan perkembangan produktivitas khususnya perkebunan sawit rakyat. Masalah produktivitas merupakan masalah utama yang dihadapi petani petani rakyat di indonesia. Salah satu penyebabnya adalah pemanfaatan bibit illegitimate, kurangnya informasi dan pengetahuan terhadap tata cara perkebunan yang benar, kurangnya sarana & prasaran yang memadai, serta akses perkebuna ke lokasi pabrik pengolahan kelapa sawit.
Sumber BPS indonesia
  • Dari sisi pendapatan yang merupakan indikator penting dalam mengukur tingkat kesejahteraan dilihat dari segi agregasi atau disaregasi. Dari segi agregasi menunjukkan perbandingan rata-rata pendapatan antara petani sawit dan petani non sawit. Di beberapa lokasi sentra sawit menunjukkan perluasan perkebunan kelapa sawit meningkatan pendapatan masyarakat dimana pendapatan masyarakat lebih tinggi dibandingkan dengan Upah minimun Provinsi (UMP) tertinggi di indonesia.
  • Melalui peningkatan pendpatan ini tentu akan menurunkan tingkat kemiskinan meski belum seluruhnya terjadi di indonesia.
Sumber BPS Indonesia
  • IPM merupakan indikator penting karena tidak hanya mencakup aspek ekonomi, akan tetapi kesehatan dan pendidikan. Aspek ekonomi dapat diukur melalui purchasing power parity (PPP), kesehatan rata-rata angka harapan hidup & pendidikan dari lama sekolah dan angka melek huruf. Tidak berbeda jauh dengna pendapatan IPM daerah sentra perkebunan kelapa sawit juga lPM lebih tinggi dibandingkan dengan daerah non sentra kelapa sawit.

Dari data – data tersebut diatas menunjukkan dampak positif dari perkebunan kelapa sawit dibandingkan petani non sawit yang begitu signifikan. Akan tetapi terdapat beberapa tantangan yang menjadi perhatian khususnya pemerintah dalam mengoftimalkan manfaat industri kelapa sawit seperti isu lahan, produktvitas, kualitas, fair trade, sustainability dll.

Sedangkan data dari gapki perkebunan kelapa sawit memegang peranan penting dalam pembangunan pedesaan. Melalui perkebunan kelapa sawit dapat memindahkan daerah tertinggal, pinggiran, terpencil, terisolasi, dan berpindah ke pusat pertumbuhan baru.

Melalui model  kemintraan sehamparan memungkin para investor untuk menjadi investor yang menarik (melalui efek langsung, efek industri, efek konsumsi yang di induksi) sektor lain, mengubah kota hantu menjadi pusat pertumbuhan baru di pedesaan.

Hasil penelitian yang dilakukan Amzul (2011) dan PASPI (2014) menunjukkan peningkatan produktivitas CPO di daerah pedesaan juga terkait serta memiliki dampak signifikat terhadap sektor pedesaan. Manfaat yang dirasakan dari peningkatan CPO ini tidak hanya dirasakan petani sawit saja, melainkan dapat dinikmati diluar petani sawite. Dengan kata lain, melalui pertumbuhan kelapa sawit rakyat dengan kemitraan dapat meningkatkan kapasitas ekonomi pedesaan guna menghasilkan output, pendapatan dan kesempatan kerja baik di perkebunan kelapa sawit yang ada di desa tersebut maupun di pedesaan lainnya.

Menurut PASPI, 2014 yang dikutip dari gapki setiap peningkatan produksi CPO 1% akan mengurangi tingkat kemiskinan sebesar 0,7%.

Menurut Geonadi (2008) lebih dari 6 juta orang yang terlibat dalam perkebunan kelapa sawit keluar dari kemiskinan. Selain itu peran penting lainnya dari sektor perkebunan kelapa sawit adalah sebagai sumber devisa bagi negara. Kontribusi ekspor kelapa sawit dalam valuta asing mencapai USD 18-20 miliar per tahun.

Dampak Perkebunan Kelapa Sawit

Selain mendatangkan devisa yang begitu tinggi bagi negara, meningkatan perekonomian khususnya di pedasaan, perkebunan kelapas sawit juga menyisakan sejumlah masalah seperti kebakaran hutan dan lahan yang kerap terjadi, kekeringan, menurunnya tingkat kesuburan tanah, hingga dampak negatif terhadap ekosistem lingkungan.

  1. Kebakaran hutan dan lahan

Dikutip dari situs resmi greenpeace, dari tahun 2015 sampai dengan 2018 jumlah hutan dan lahan yang terbakar mencapai 3.403.000 hektar (ha). menurut analisis burn scar (bekas terbakar) data resmi pemerintah pada tahun 2015 saja lebih dari 2.600.000 ha lahan terbakar. Diperkirakan kebakaran tersebut sebagai bencana lingkungan hidup terbesar di abda ke 21 ini. Bank dunia memperkirakan kerugian akibat kebarakan lahan tersebut mencapai  221 triliun rupiah dalam bentuk kerusakan hutan, sektor pertanian, pariwisata & industri lainnya.

Data cnnindonesia Jumat, 13/09/2019, kebakaran hutan dan lahan yang terjadi sumatera selatan, satgas karhutla sumsel menyebutkan sebagian besar lahan yang terbakar tersebut merupakan milik perusahaan.

Daerah dengan lahan terbakar paling luas adalah 1.066,29 di kabupaten musi banyuasin, 596,6 ha di ogan komering ilir 505,19 ha, ogan ilir 252,45, 249,25 ha di banyuasin.

Masih dari cnnindonesia Jumat, 13/09/2019, menteri LHK siti nurbaya bakar menyebutkan kebakaran di kalimantan setidaknya ada 4 perusahaan asing yang terlibat akibat kebakaran hutan dan lahan tersebut . situ juga menyebutkan nama-nama perusahaan tersebut,  PT Hutan industri miling singapura di ketapang, PT sime indoargo milik malaysia, PT sukses karya sawit  malaysia di ketapang dan PT Rafikamajaya abadi milik melawi.

 Siti nurbaya menambahkan setidaknya ada 103 perusahaan yang terkena sangsi akibat pembakaran hutan. Dari 103 ter tersebut telah ada 15 perusahaan masuk dalam penyidikan di Polda.

Menurut data CNBC indonesia 24 October 2019, gubernur Riau, Syamsuar menyebutkan pembukaan lahan hutan untuk perkebunan kelapa sawit merupakan akar masalahnya.

  1. Kabut asap

Ada istilah yang menyebutkan gak mungkin ada asap kalau tidak api. Yup, akibat kebakaran lahan gambut yang meluas di riau dan kalimantan cukup tebal hingga masuk dalam kondisi darurat.

Menurut data mongabay.co.id, kebakaran hutan dan lahan yang terjadi di berbagai wilayah indonesia menyisakan masalah seperti:

    • Beberapa wilayah di indonesia diselimuti kabut asap akibat dari karhutla dan menyebabkan aktivitas warga terganggu seperti transportasi dan mobilisasi
    • Kabut asap mengundang sejumlah gas & partikel kimia yang menyebabkan terganggungnya pernapasan.
    • Masalah saluran pernapasan akibat karhutla sebagaimana dirilis BNPB 2019 mencapai 919.516 orang

Selain data tersebut diatas, dampak kabut asap terhadap kesehatan yang dirangkum dari berbagai situs sebagai berikut:

    • Batuk dan iritasi pada tenggorokan

Seorang yang menghirup udara tercemar asap kebakaran memungkinkan akan mengalami batuk dan iritasi tenggerokan. Umumnya penderita akan merasakan efek bagi pernapasan selang beberapa jam. Akan tetapi untuk sistem pernapasan dapat saja berlangsung dalam waktu lama meski gejala telah menghilang.

    • Berdampak terhadap fungsi jantung

Partikel yang terdapat pada kabut asap beresiko tinggi menginfiltrasi aliran darah dengan demikian berdampak terhadap jantung. Hal ini terjadi dikarenakan partikel yang terdapat dalam kabut asap biasanya amat kecil yakni kurang dari 10 mikrometer. Semakin kecil ukuran partikel akan semakin besar resiko yang ditimbulkan.

    • Terhadap paru – paru

Penyakit Asma & PPOK berpotensi menjadi semakin parah bila menghirup udara kabut asap. Hal ini telah dibuktikan dengan penelitian di Thailand yang menunjukkan bahwa pada musim kabut asap, jumlah kunjungan di unit gawat darurat terkait kambuhnya gejala penyakit asam dan PPOK juga meningkat. Hal ini disebabkan zat yang terkandung dalam kabut asap memiliki sifat iritatif & menyebabkan paru-paru meradang.

    • Terhadap mata dan penglihatan

Kabut asap dapat menyebabkan iritas pada mata, akibat debu & zat iritatif. Untuk menghindari hal ini sebaiknya sediakan obat tetes dan jangan lupa menggunakan kacamat bila bepergian keluar rumah.

    • Terhadap kulit

Kabut asap tidak hanya menyerang terhadap organ dalam tubuh seperti sistem pernapasan & jantung, akan tetapi kabut asap berdampak terhadap kerusakan kulit. Kerusakan terhadap kulit terjadi melalui timbulnya iritasi dan peradangan pada jaringan kulit. Hal ini telah dibuktikan melalui penelitian, bahwa kabut asap dapat meningkatkan risiko penuan dini kulit, jerawat, kanker kulit, dan memberatnya eksim dan psoriasis.

  1. Rusaknya Ekosistem dan Keragaman Hayati

Kebakaran hutan dan lahan yang terjadi disejumlah daerah berdampak serius terhadap kerusakan ekosistem dan keragaman hayati.

Kerusakan yang tampak nyata terdapat di enam provinsi yang paling banyak terbakar. Menurut data BNPB rilis 3 oktober 2019 menunjukkan luas hutan terbakar:

    •  Provinsi riau (49.266 ha/ september),
    •  Jambi (11.022 ha/september),
    • Sumatera selatan (11.826 ha/september),
    • Kalimantan barat (25.900 ha/september),
    • Kalimantan Tengah (44.769 ha/ september),
    • Kalimantan selatan (19.490 ha / september).

Kelapa sawit juga termasuk dalam ekosistem hayati layaknya hutan. Hewan-hewan dapat hidup diperkebunan kelapa sawit pun rata-rata huwan perusak, seperti ular, tikus, babi, bila dibandingkan dengan kelapa sawit, hutan jauh lebih berguna keberadaannya.

  1. Banjir dan kekeringan

Konversi hutan alam menjadi perkebunan kelapa sawit tidak jarang menyebabkan bencana alam seperti banjir dan kekeringan bahkan tanah longsor. Di beberapa wilayah indonesia kesululitan air bersih ketika terjadi kemarau meskipun kemaraunya tidak berlangsung lama. Hal ini karena sifat pohon kelapa sawit menyerap banyak unsur hara dan air dalam tanah.

  1. Munculnya hama migran baru yang begitu ganas

Hama migran muncul biasanya dikarenakan ekosistem yang tergangganggu. Jenis hama ini mencoba mencari habitat baru akibat adanya kompetisi yang begitu besar dengan fauna lainnya. Hal ini bisa terjadi karena keterbatas lahan dan jenis tanaman akibat monokulturasi.

  1. Kerusakan unsur hara dan air dalam tanah

Meski sudah banyak diproses hukum bahkan dinyatakan bersalah di pengadilan tentang larangan membakar hutan tetap saja kebiasaan tersebut tidak kunjung hilang. Ariful Amri Msc, dari universitas Riau pernah melakukan penelitan tentang kerusakan tanah akibat perkebunan kelapa sawit. Dalam penelitian tersebut menyimpulkan, dalam satu hari satu batang pohon sawit menyerap 12 liter unsur hara dan air dalam tanah.

  1. Terjadi konflik horizontal dan vertikal antar warga

Medio 2014 silam, beberapa warga dikalimantan terlibat bentrok dengan aparat akibat tanah kepemilikan mereka dialihfungsikan dengan perkebunan kelapa sawit. Selain terdapat juga konfilik antar warga yang menolak dan yang menerima masuknya perkebunan kelapa sawit di daerah mereka.