Sumber Daya Alam Non Hayati

Sumber daya yang tersedia di alam pada umumnya dapat memenuhi kebutuhan manusia dalam banyak hal. Tidak heran dari dulu hingga sekarang pemanfaatannya terus dilakukan hingga sekarang. Bahkan manusia merupakan bagian dari yang tak terpisahkan dari lingkungan. Meski demikian perlu dilakukan pelestarian karena SDA sifatnya terbatas.

Berdasarkan jenisnya sumber daya alam berdasarkan jenisnya dikelompokkan menjadi sumber daya alam hayati (biotik) dan sumber daya alam non hayati (abiotik).

Lihat juga:

Pengertian

Secara umum sumber daya alam adalah suatu nilai potensi yang dimiliki oleh suatu materi ataupun unsur tertentu dalam kehidupan. Perlu diketahui sumber daya alam tidak selamanya bersifat fisik akan tetapi dapat juga berupa non fisik.

Sumber daya alam non hayati (abiotik) adalah SDA yang berasal dari makhluk hidup seperti tumbuhan, mikroba dan manusia. SDA non hayati merupakan sumber daya alam yang dapat diperbaharui karena tumbuhan, hewan maupun mikroorganisme dapat berkembang biak. Sebenarnya air juga termasuk dalam sumber daya alam yang dapat dipulihkan meskipun yang memulihkannya adalah alam melalui daur hidrologi.

  1. Sumber daya alam tumbuhan

Berbicara tentang sumber daya alam tumbuhan tidak hanya jenisnya saja melainkan jugamanfaatnya misalnya untuk tumbuhan berguna untuk pangan, papan, dan rekreasi, akan tetapi untuk bunga – bunga tertentu seperti melati, anggrek bulan, dan reafflesia arnoldi merupakan pengecualian karena ketiga jenis bunga tersebut sejak 9 januari 1993 dalam Kepres No.4 telah ditetapkan sebagai bunga nasional dengan gelar masing-masing sebagai berikut:

    • Melati sebagai bunga bangsa
    • Anggrek bulan sebagai bunga pesona
    • Raffflesia arnoldi sebagai bunga langka

Tumbuhan memiliki kemampuan menghasilkan oksigen & karbohidrat melalui proses fotosintesi. Maka dari tumbuhan merupakan produsen atau penyusun dasar rantai makanan.

Eksploitasi terhadap tumbuhan yang berlebihan akan berdampak terhadap kerusakan dan kepunahan, dan akan merusak rantai makanan.

  1. Sumber daya hewan

Sumber daya hewan dapat berupa hewan liar maupun hewan ternak atau yang sudah dibudidayakan. Pada tanggal 9 januari 1993 juga ditetapkan sebagai tiga satwa nasional, yakni:

    • Komodo (Varanus Kodoensis) sebagai satwa nasional darat
    • Ikan Solera merah sebagai satwa nasional air
    • Elang jawa sebagai satwa nasional

Guna mencegah dari kepunahan terhadap ketiga satwa diatas, maka perlu diusahakan pelestarian secara in situ dan ex situ. Pelestarian in situ merupakan pelestarian yang dilakukan pada habitat aslinya sementara pelestarian ex situ adalah pelestarian satwa langka merupakan pelestarian dengan cara memindahkan satwa langkah dari habitat aslinya ke tempat lainnya.

  1. Sumber daya mikroba  

Sumber daya mikroba memiliki peran penting dalam berbagai hal seperti berikut:

    • Sumber pangan atau mengubah bahan pangan menjadi bentuk lain, misalnya tape, sake, tempe, dan oncom
    • Penghasil obat-obatan (antibiotik), misalnya penisilin
    • Membantu penyelesaian jalan keluar tentang pencemaran udara, misalnya dengan membuat biogas dan daur ulang sampah.
    • Sebagai rekayasa genetika, misalnya pencakokan gen virus dengan gen sel hewan guna menghasilkan interferon yang dapat melawat jenis virus

Contoh sumber daya alam non hayati

 Menemukan contoh baik sumber daya hewani, tumbuhan maupun mikroba dalam kehidupan sehari-hari tidaklah sulit.

 

  1. Sumber daya hewan
  • Daging bersumber dari ikan, mamalia maupun hewan lainnya dapat digunakan sebagai sumber protein hewani bagi manusia
  • Susu, bersumber dari hewan mamalia dapat dimanfaatkan sebagai minuman bergizi bagi manusia. Misalnya, susu yang sering dikonsumsi seperti susu sapi, susu kambing, maupun susu kuda.
  • Telur, bersumber dari hewan ovipar seperti unggas, reptil maupun ikan. Telur yang dikonsumsi manusia dapat dijadikan sebagai sumber protein hewani, misalnya telur ayam, telur bebek, telur burung puyuh, maupun telur angsa.
  • Kulit, dihasilkan dari semua hewan dan dapat digunakan sebagai bahan baku sandang bagi manusia. Misalnya kulit domba dapat dijadikan sebagai tas, tas, ikat pinggang, dompet dan lain sebagainya.
  • Madu, dihasilkan oleh lebah dan dapat dijadikan sebagai bahan baku obat herbal

 

  1. Sumber daya tumbuhan

Tumbuhan dapat menghasilkan beragam produk yang dapat digunakan manusia guna menunjang kebutuhan hidupnya.

  • Sayur, dihasilkan dari tanaman sayuran dan dapat dimanfaatkan manusia sebagai bahan pangan, misalnya, kangkung, bayam, daun singkong, dan lain sebagainya.
  • Buah dihasilkan dari berbagai jenis tanaman dan dimanfaatkan sebagai bahan pangan.
  • Kayu, dihasilkan dari tanaman kayu dan dapat digunakan sebagai material pembuatan rumah
  • Bunga, sebagai sarana hobi, keindahan maupun penghormatan. Misalnya bunga mawar, melati dan tulip
  • Biji, sebagai sumber pangan, misalnya padi, jagung dan gandum

 

  1. Mikroorganisme

Berbagai jenis sumber daya mikroorganisme dialam yang dapat digunakan manusia sebagai alat pemenuhan kebutuhan melalui penerapan bioteknologi. Bioteknologi adalah pemanfaatan mikroorganisme sebagai agen perubahannya. Contoh pemanfaatan bioteknologi misalnya proses pembuatan tempe, cuka, yougart, kezu, dan anggur. Proses pembuatan kesemua produk tersebut ditambahkan mikroorganisme menguntungkan seperti jamur, kapang dan bakteri.

pengertian sampah

Sampah

 Sepertinya persoalan tentang sampah tidak pernah ada habis-habisnya untuk dibicarakan. Pasalnya jumlah produksi sampah setiap harinya begitu tinggi, untuk satu Provinsi DKI saja produksi sampah perhari mencapai 7000 ton. Dari jumlah tersebut 1900 sampai 2000 ton terdiri dari sampah plastik.

Tingginya produksi sampah plastik tidak lepas dari penggunaan kantong plastik atau kemasan makanan/minuman sekali pakai langsung buang. Sampah plastik merupakan jenis sampah yang sulit terurai di dalam tanah bahkan membutuhkan ratusan tahun agar terurai.

Untuk menghindari penumpukan sampah yang jumlahnya terus meningkat maka perlu dilakukan proses daur ulang dan mengurangi penggunaan kantong plastik atau kemasan plastik sekali pakai.

Pengertian Sampah

Sampah adalah barang yang dianggap sudah tidak memiliki mutu atau manfaat dan dibuang si pemilik atau pemakai sebelumnya, akan tetapi bagi sebagian orang masih dapat digunakan jika dikelola sesuai dengan prosedur yang benar.

Sedangkan menurut wikipedia sampah merupakan material sisa yang tidak diinginkan setelah berakhirnya suatu proses.

Dari segi bentuk umumnya sampah dapat berupa sisa makanan, daun-daunan, ranting pohon, kertas, plastik, kain bekas, kaleng-kalengan, debu sisa penyapuan, dsb (SNI 19-2454-1993).

Sedangkan sampah padat adalah semua yang termasuk barang yang sisa yang ditimbulkan dari suatu aktivitas manusia maupun binatang yang secara normal padat & dibuang ketika tidak di inginkan /dikehendaki lagi atau sia-sia )Tchobanoglous, G dkk 1993).

Jenis Sampah

lihat juga:

Pengertian, jenis dan karakteristik limbah

Jenis jenis sampah menurut panji Nugroho dikelompokkan menjadi beberapa jenis:

Berdasarkan sumbernya

  1. Sampah alam

Merupakan sampah yang berasal dari proses alam yang dapat di daur ulang alami, misalnya daun-daunan kering yang terdapat dihutan yang terurai kembali menjadi tanah. Di luar kehidupan liar, sampah ini dapat menjadi masalah, misalnya daun-daun kering dilingkungan permukiman.

  1. Sampah manusia (human waste)

Merupakan istilah yang biasa digunakan terhadap hasil pencernaan manusia seperti, feses dan urin. Jenis sampah ini akan mengganggu kesehatan karena dapat dijadikan sebagai vektor (sarana perkembangan) penyakit yang disebabkan oleh virus & bakteri. Cara mengurangi resiko penularan akibat sampah manusia adalah hidup bersih dan sanitasi. Termasuk didalamnya adalah perkembangan teori penyaluran pipa (plumbing)

  1. Sampah konsumsi

Merupakan sampah yang berasal dari kegiatan manusia (pengguna barang), dengan kata lain sampah ini berasal dari hasil konsumsi sehari-hari. Jenis sampah ini termasuk kategori sampah umum, akan tetapi sampah ini jumlahnya masih jauh lebih kecil bila dibandingkan dengan sampah sampah yang dihasilkan dari proses pertambangan atau industri.

  1. Sampah industri

Merupakan bahan sisa yang dihasilkan industri melalui proses industri. Umumnya sampah yang dikeluarkan dari sebuah industri jumlah tergolong cukup  besar dan dapat dikatakan sebagai limbah. Berikut ini beberapa gambaran mengenai limbah yang berasal dari beberapa industri:

    • Limbah industri pangan (makanan) misalnya hasil ampas makan sisa produksi yang dibuang akan menimbulkan bau dan polusi bila pembuangannya tidak diikuti dengan perlakuan yang tepat.
    • Limbah industri kimia dan bahan bangunan, misalnya industri pembuat atau pengolahan minyak pelumas (oli) dalam proses pembuatannya tentu membutuhkan air dalam jumlah yang besar, dengan demikian akan mengakibatkan limbah cair yang dihasilkan dan dibuang pada lingkungan sekitar. Biasanya air hasil produksi ini mengandung zat kimia yang tidak baik bagi tubuh karena dapat membahayakan kesehatan.
    • Limbah industri logam dan elektromanika, merupakan bahan sisa seperti serbuk besi, debu & asap yang dapat mencemari udara sekitar bila tidak ditangani dengan tepat.

Berdasarkan sifatnya

  1. Sampah organik

Sampah organik  atau sampah hayati Merupakan sampah yang dapat dengan mudah hancur atau membusuk misalnya sisa – sisa makanan, sayuran, daun-daunan kering, dan lain sebagainya. Sampah organik dapat diolah lebih lanjut menjadi pupuk kompos.

  1. Sampah non organik

sampah anorganik/ non hayati merupakan sampah yang susah atau tidak dapat membusuk dalam jangka waktu yang lama, merupakan sampah yang tersusun dari senyawa nonorganik yang berasal dari sumber daya alam tidak terbaharui misalnya mineral dan minyak bumi, atau proses industri. Contoh, botol gelas, plastik, tas plastik, kaleng & logam.

Sebagian sampah non-organik ini tidak dapat diurai oleh alam dan sebagiannya lagi dapat diurai dalam waktu yang lama. Mengelola sampah anorganik berhubungan erat dengan penghematan sumber daya alam yang digunakan guna membuat bahan-bahan tersebut serta pengurangan polusi akibat proses produksinya di pabrik.

Waktu yang dibutuhkan agar sampah hancur dan membusuk menjadi tanah tergantung pada jenis sampah tersebut, bahkan terdapat sampah tidak hancur dalam jangka waktu lama.

Jenis sampah Waktu yang dibutuhkan agar sampah hancur
Kertas 2-5 bln
Kulit jeruk 6 bln
Dus karton 5 bln
Filter rokok 10-12 bln
Kantong plastik 10-20 thn
Kulit sepatu 25-40 thn
Pakaian /nylon 30-40 thn
Plastik 50-80 thn
Alumunium 80-100 thn
Styrofoam Tidak hancur

Jenis sampah anorganik

    1. Styrofoam
    2. Kertas
    3. Sampah bahan berbahaya dan beracun (B3) rumah tangga

Berdasarkan sifatnya

  1. Sampah padat

Merupakan bahan sisa selain kotora manusia, urine dan sampah cair. Sampah padat dapat berupa sampah dapur, sampah kebun, plastik, metal, gelas, dll. Menurut bahannya jenis sampah ini dibedakan menjadi sampah organik dan anorganik.

Sedangkan berdasarkan kemampuan diurai alam (biodegradable), dibedakan menjadi:

      • Biodegradable

Merupakan sampah yang dapat diuraikan oleh proses biolog, yang dapat dibagi menjadi :

      • Recyclable merupakan sampah yang dapat di olah atau di daur ulang yang selanjutnya dapat digunakan kembali karena sudah memiliki nilai ekonomis, misalnya plastik, kertas, pakaian, dan lain-lain
      • Non – Recyclable merupakan sampah yang tidak memiliki nilai ekonomis dan tidak dapat diolah atau di daur ulang lagi, misalnya tetra packs (kemasan pengganti kaleng), carbon paper, thermo coal dan lain lain.

2. Sampah cair

Adalah sampah yang berasal dari produksi dimana bahan cairannya telah digunakan dan tidak diperlukan kembali & dibuang ketempat pembuangan sampah.

    • Limbah hitam, yaitu smapah cair yang dihasilkan dari toilet. Sampah ini mengandung pentogen yang berbahaya
    • Limbah rumah tangga misalnya sampah cair yang dihasilkan dari dapur, kamar mandi, & tempat cucian. Sampah memungkinkan mengandung pentogen.

Lihat juga:

Mesin RO penjernih Air

Prinsip pengolahan sampah

Prinisip yang biasa diterapkan dalam pengolahan sampah adalah prinisp 5 M (Panji Nugroho, 2013):

  1. Mengurangi (reduce)

Mengurangi penggunaan barang- barang yang habis digunakan menimbulkan sampah. Semakin banyak sampah yang terbuang makan semakin banyak sampah yang menumpuk

  1. Menggunakan kembali (reuse)

Mengupayakan untuk mencari barang-barang yang dapat digunakan kembali, serta menghindari pemakaian barang-barang yang sekali pakai untuk memaksimalkan umur suatu barang

  1. Mendaur ulang kembali (recucle)

Selain menemukan barang yang dapat digunakan kembali, dapat juga mencari barang yang dapat di daur ulang kembali, dengan demikian barang tersebut dapat dimanfaatkan kembali bukan sebaliknya menjadi sampah.

  1. Mengganti (replace)

Metode ini dapat diterapkan dengan cara melakukan pengamatan disekitar. Mengganti barang sekali pakai dengan barang yang lebih tahan dan dapat digunakan secara berulang serta ramah lingkungan.

  1. Menghargai (respect)

Yang terakhir menerapkan rasa kecintaan terhadap alam, dengan demikian akan menimbulkan sikap bijaksana sebelum memilih.

Pengolahan sampah

Sampah dibiarkan menupkkan akan menimbulkan masalah, terlebih terhadap kesehatan, karena dari sampah tersebut akan muncul mikroorganisme penyebab penyakit (bakteri patogen), jadi sampah harus benar-benar harus diolah agar tidak minimbulkan masalah ditengah masyarakat.

Ada berbagai cara yang dapat ditempuh untuk mengurangi dampak negatif dari sampah:

    1. Penumpukkan

Menumpuk sampah hingga membusuk, sehingga dapat dimanfaatkan kembali sebagai pupuk kompos.

    1. Pembakaran

Cara yang paling umum dilakukan dalam mengurangi sampah, bahkan di berbagai TPA metode ini kerap dipakai pemerintah. Kelemahan dari sistem pembakaran ini adalah tidak semua sampah habis dibakar

    1. Sanitary Landfill

Metode penerapannya adalah embuat lubang baru untuk mengubur sampah. Metode ini sering dilakukan pemerintah untuk mengurangi jumlah sampah.

    1. Pengomposan

Metode ini sangat di anjurkan karena berdampak positif dan menghasilkan barang manfaat dari sampah yang berguna bagi lingkungan dan alam.

definisi limbah

Pengertian Limbah, Jenis dan Karakteristik

Pengertian Limbah

Definisi limbah adalah sisa atau bahan buangan dari suatu usaha atau kegiatan yang mengandung bahan beracun dikarenakan sifat, konsentrasi dan jumlahnya, baik secara langsung maupun tidak langsung memberikan dampak negatif terhadap lingkungan. Definisi lain berdasarkan keputusan Menperindag RI No. 231/MPP/Kep/7/1997 Pasal 1 tentang prosedur impor limbah, mengatakan limah adalah bahan/barang sisa atau bekas dari suatu kegiatan atau proses produksi yang fungsinya sudah berubah dari aslinya.

Limbah padat industri

Limbah dapat bersumber dari sisa kegiatan manusia (rumah tanggan dan industri) maupun yang berasal dari alam. Ditinjau dari segi kimiawi-nya limbah terdiri dari bahan kimia senyawa organik dan anorganik. Sedangkan tingkat bahaya keracunan akibat dari limbah tergantung pada jenis dan karekteristiknya.

Berdasarkan wujudnya, limbah yang dihasilkan digolongkan menjadi 3 jenis, yakni:

  1. Limbah padat,
  2. Limbah cair dan
  3. Limbah gas

Limbah Padat

Limbah padat adalah limbah yang sifatnya padat yang terdiri dari zat organik dan anorganik dan seringkali dianggap tidak berguna dan harus dikelola kembali agar tidak membahayakan lingkungan dan untuk melindungi investasi pembagunan pembagunan.

Sampah adalah istilah umum yang sering digunakan untuk menyatakan limbah padat. Sedangkan definisi sampah adalah sisah sisa bahan yang mengalami perlakuan baik karena telah diambil manfaatnya, atau telah melalui proses pengolahan sehingga sudah tidak ada manfaat dan nilai ekonomis dan dapat menyebabkan pencemaran atau gangguan terhadap lingkungan hidup.

Definisi sampah Menurut UU No.18 Tahun 2008, sisa kegiatan sehari-hari manusia dan/atau proses alam yang berbentuk padatan.

  • Sampah pasar, tempat-tempat komersil

Terdiri dari berbagai macam & jenis sampah, seperti sampah sisa sayuran, daun bekas bungkus, isa makanan, dan sebagainya. Sedangkan ciri cirinya memiliki berbagai macam dan jenis sampah yang masing-masing volumenya hampir sama.

  • Sampah pabrik/industri

Merupakan benda benda atau sisa bekas dari proses pengolahan bahan baku, seperti pabrik gula tebu akan membuang ampas tebu. Ciri-cirinya tidak banyak macam & jenisnya. Umumnya sampah ini berasal  kegiatan proses produksi (bahan-bahan kimia serpihan /potongan bahan), perlakuan dan pengemasan produk (kertas, kayu, plastik, kain/lap yang jenis dengan pelarut untuk pembersihan). limbah yang dihasilkan industri ini seringkali beracun dan memerlukan perlakuan khusus sebelum akhirnya dibuang.

  • Sampah rumah tinggal, kantor, institusi, gedung umum dan lain sebagainya

Kebanyak sampah yang dihasilkan industri rumah tangga adalah berupa sisa pengolahan makanan, perlengkapan rumah tangga bekas, kardus, gelas, kain, sampah kebun,/halaman dan lain sebagainya. Sedangkan karakteristiknya hampir menyerupai dengan sampah pasar, kecuali terdapat sampah dari pengurasan septic tank.

  • Sampah kandang dan pemotongan hewan

Biasanya terdiri dari sisa sisa makanan hewan dan kotorannya, daging dan tulang-tulangnya.

  • Sampah jalan, lapangan dan pertamanan

Sampah ini terdiri dari pengotoran yang disebabkan pejalan atau pengguna jalan, pemakai lapangan dan pertamanan, pemotong rumput, reruntuhan bunga dan buah.

  • Sampah selokan, riol dan septic tank

Terdiri dari endapan-endapan & benda-benda yang hanyut sebagai penyebab tersumbatnya selokan riol. Isi septic tank merupakan lumpur tinja yang biasa diangkut menggunakan mobil tangki tinja dilengkapi dengan pompa hisap.

Lihat juga:

Produk Mesin RO untuk penjernih air

Jenis limbah padat

Berdasarkan zat kimia yang terkandung di dalamnya:

    1. Limbah padat organik, seperti sisa makanan, kertas, plastik dan
    2. Limbah padat anorganik, seperti logam, kaca dan abu.

Berdasarkan mudah atau tidaknya terbakar:

    1. Mudah terbakar, seperti kertas, plastik, daun, sisa makanan, dan
    2. Tidak dapat terbakar, seperti kaca, logam dan abu

Berdasarkan dapat atau tidak mudahnya membusuk

    1. Mudah membusuk, misalnya sisa makanan, daun-daunan dan
    2. Tidak mudah membusuk, misalnya plastik, kaleng, kaca dan logam.

Karakteristik limbah padat

Karakteristik sampah merupakan sifat-sifat sampah yang meliputi sifat kimia, fisik dan biologis. Karakteristik sampah dapat diuraikan seperti berikut:

  1. Karakteristik fisik, meliputi: berat, jenis, kadar air, ukuran partikel ,distribusi ukuran partikel, dan permeabilitas buangan terkompaksi.
    • Berat jenis

Merupakan berat material per satuan volume. Berat jenis merupakan data yang sangat penting dalam studi mengenai tumbulan sampah, terutama jika menggunakan satuan volume. Nilai dan jenisnya dapat berbeda-beda, hal ini terjadi karena dipengaruhi oleh lokasi geografis, musian tiap tahun, dan lamanya waktu penyimpanan.

    • Kadar air

Merupakan kandungan air limbah padat yang dinyatakan dalam salah satu dari dua cara. Dalam metode berat masah, pengukuran, kelembapan dalam sample yang dinyatakan dalam metode berat kering., itu dinyatakan sebagai persentase akibat kering bahan. Metode berat basah yang biasa digunakan adalah dibidang pengolahan limbah padat. Dalam bentuk persamaan, berat basah kadar air, dinyatakan sebagai berikut:

Ket:

M = kadar air, %

W =berat awal, kg

D = berat setelah dikeringkan dalam oven 1050C, kg

pengertian limbah jenis, dan karakteristik limbah
Kandungan Air dan Berat Jenis Komponen Sampah Perkotaan
  1. Karakteristik kimia, meliputi : proximate analysis (kadar air, volatil, fixed carbon, dan abu), titik lebur, ultimate analysis (kadar karbon, hidrogen, oksigen, nitrogen, sulfur) dan kadar energi.
    • Proximate analysis

Merupakan perkiraan analisis untuk komponen-komponen limbah padat, meliputi:

    • Mousture (hilangnya uap air saat dipnaskan hingga 1050C selama 1 jam).
    • Volatile combustible (tambahan kehilangan berat pada pembakaran di 6500C pada wadah tertutup
    • Fixed karbon (mudah terbakar sisa setelah bahan mudah menguap dihapus)
    • Abu (berat residu setelah pembakaran dalam wadah terbuka).
Karakteristik Proximage Analysis dan Ultimate Analysis Sampah Perkotaan
    • Ultimate analysis

Merupakan analysis akhir pada sebuah komponen limbah yang biasanya melibatkan penentuan persen  C (karbon), H (hidrogen), ) (oksigen), N (nitrogen), s (belerang), dan abu. Hasil analysis akhir ini selanjuthnya akan digunakan untuk menandai komposisi dari materi organik pada limbah padat. Selain itu analysis akhir juga digunakan untuk menentukan campuran yang tepat untuk bahan limbah yang sesuai dengan C/N rasio untuk proses konvensi biologis.

C (karbon) merupakan sumber energi bagi mikroorganisme, sementara N (nitrogen) digunakan untuk membangun sel-sel tubuh bagi mikroorganisme. Bila rasio C/Ntendah walaupun awalnya terjadi dekompoisis yang sangat tepat, tetapi berikut kecepatannya akan akan menurun yang disebabkan kekurangan karbon sebagai sumber energi dan nitrogens akan bilang melalui penguapan ammonia.

jenis jenis limbah
Karakteristik kimia dari komponen combustible sampah perkotaan
  1. Karakteristik biologis, meluputi: biodegradibilitas, produksi bau dan perkembangbiakan lalat.

Limbah Cair

Merupakan limbah yang memiliki wujud cair. Biasanya limbah ini selalu larut dalam air dan berpindah (kecuali ditempatkan pada wadah). contoh dari limbah cair adalah air bekas cuci pakaian dan piring, limbah cair industri, dan lain lain.

Karakteristik limbah cair

Limbah cair baik domestik maupun non domestik memiliki beberapa karakteristik sesuai dengan sumbernya, dimana karakteristik limbah cair dibedakan menjadi karakteristik fisik, kimia, dan biologi.

    1. Karakteristik fisik

Karakteristik fisika dari air limbah yang perlu diketahui adalah total solid, bau, temperatur, densitas, warna, konduktivitas, dan turbidity.

      • Total solid merupakan materi yang tersisa setelah proses evaporasi pada suhu 103-1050 karakteristik yang bersumber dari saluran air domestik, industri erosi tanah, dan inflitrasi ini dapat mengakibatkan bangunan pengolahan penug dengan sluge dan kondisi anaerob dapat tercipta dengan demikian akan mengganggu proses pengolahan.
      • Bau, disebabkan oleh udara yang dihasilkan pada proses dekompoisisi materi atau penambahan substansi pada limbah
      • Temperatur, mempengaruhi konsentrasi oksigen terlarut dalam air. Air yang baik memiliki temperatur normal 80C dari suhu kamar 270 semakin tinggi temperatur suatu air (>270C) maka kandungan oksigen dalam air akan berkurang, begitu juga sebaliknya.
      • Density, merupakan perbandingan antara masa dengan volume yang dinyatakan sebagai slug/ft3 (kg/m3)
      • Warna, pada dasarnya air bersih tidak memiliki warna, akan tetapi seiring waktu dan meningkatnya kondisi anaerob, warna limbah berubah dari yang abu-abu menjadi kehitaman.
      • Kekeruhan, dapat diukur dengan perbandingan antara intensi cahaya yang dipendarkan oleh sampel air limbah dengan cahaya yang dipendarkan oleh susepensi standar pada konsentrasi yang sama.
    1. Karakteristik kimia

Air limbah memiliki tiga karakteristik kimia yang perlu di identifikasi yakni bahan organik, anorganik dan gas.

      • Bahan organik

Pada air limbah bahan organik bersumber dari hewan, tumbuhan serta aktivitas manusia. Bahan organik ini terdiri dari  C, H, O, N, yang menjadi karakteristik kimia adalah protein, karbohidrat, lemak dan minyak, surfaktan, pestisida, dan fenol, dimana bersumber dari pertanian.

      • Bahan anorganik

Jumlah bahan anorganik meningkat sejalan dan dipengaruhi oleh asal usul air limbah. Secara garis besar berupa senyawa-senyawa yang mengandung logam berat, (Fe, Cu, Pb, dan Mn), asam kuat dan basa kuat, senyawa fosfat, senyawa-senyawa nitrogen (amoniak, nitrit, dan nitrat), dan senyawa belerang (sulfat dan hidrogen sulfida).

      • Gas, gas umumnya ditemukan dalam limbah cair yang tidak diolah adalah nitrogen (N2), metana (CH4), hidrogen sulfida (h2S), amoniak (NH3), dan karbondiaksida.
    1. Karakteristik Biologi

Karakteristik biologis menjadi dasar dalam mengontrol munculnya penyakit yang disebabkan organisme pathogen. Karakteristik biologi dekomposisi dan stabiitas senyawa organik.

Limbah Gas

Limbah gas adalah limbah yang memiliki wujud gas. Limbah gas dapat dilihat dalam bentuk asap dan selalu bergerak sehingga penyebarannya sangat luas.

Contoh dari limbah gas adalah gas buangan kendaraan bermotor, buangan gas dan hasil industri.

Umumnya limbag gas bersumber dari pengggunaan bahan baku, proses, hasil dan sisa pembakaran.

Limbah gas sama dengan polusi udara yakni adanya yang dikeluarkan atau dihasilkan melalui proses dan berdifusi, bercampur dengan udara.

Perkebunan Kelapa Sawit dan Kebakaran Hutan di Indonesia

Latar belakang

Hampir setiap tahun kita dihadapkan permasalahan yang sama yakni kabut asap akibat kebakaran hutan. Anehnya, kebakaran hutan dan lahan lebih sering terjadi di sumatera, Riau dan kalimantan, dimana wilayah tersebut merupakan wilayah gambut dan terbanyak perkebunan kelapa sawit.

Tidak bisa dipungkiri hampir sebagian besar kebakaran hutan dilakukan secara sengaja oleh pihak-pihak tertentu dengan alasan lebih hemat biaya saat lahan hutan diganti dengan tanaman lain. Tidak hanya didalam negeri yang merasa dirugikan akibat kebakaran hutan ini, negeri jiran seperti malaysia dan singapura tidak jarang menyuarakan protes mereka terhadap kabut asap yang berasal dari indonesia.

Menurut data BNPB yang dikutip dari katadata, kebakaran hutan dan lahan di indonesia sepanjang Januari hingga Agustus 2019 mencapai 328.724 hektare. Adapun wilayah yang paling luas lahan terbakar di provinsi Riau mencapai 49.266 hektare, sedangkan wilayah kalimantan yang terdiri dari  Kalimantan Tengah 44.769 hektare, Kalimantan Barat 25.900 hektare dan  Kalimantan selatan 19.490 hektare.

Wilayah sumatera selatan, luas lahan dan hutan yang terbakar mencapai 11.826 hektare dan Provinsi Jambi mencapai 11.022 hektare.

Sedangkan menurut data Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) yang dikutip dari cnnindonesia menyebutkan jumlah kebakaran hutan dan lahan yang terjadi di Oktober 2019 meningkat hingga 80,29% dari periode yang sama tahun 2018. Tercatat hingga september 2019 ada sebanyak 7.354 titik api, sementara diperiode yang sama 2018 sebanyak 4.079 titik. Dengan demikian terjadi peningkatan sekitar 3 .279 titik api.

Menurut tirto, setelah meninjau bersama BNPB, Panglima TNI dan Kapolri, menggunakan Helikopter, Kapolri Tito justru heran tidak melihat tanaman sawit dan industri ikut terbakar. Walaupun ada jumlahnya hanya sedikit.

Hal ini menunjukkan adanya “land clearing” yakni memanfaat musim kemarau terkait dugaan kebakaran hutan dan lahan.

Sedangkan KLHK mengatakan telah menyegel sebanyak 42 perusahaan yang diduga sebagai dalang kebakaran hutan dan lahan yang berada di jambi, Riau, Sumatera selatan, Kalimantan barat dan kalimantan tengah.

Perkebunan Kelapa Sawit di Indonesia

Hingga sekarang indonesia masih menduduki eksportir kelapa sawit terbesar di dunia, disusul malaysia, thailand, kolombia dan nigeria. Menurut data yang dikutip dari katadata, selama tahun 2018 luas perkebunan kelapa sawit indonesia mencapai 14,3 juta hektare. Dimana 7,7 juta ha atau 54% dari total luas lahan dikuasai oleh perusahaan swasta. Sedangkan luas perkebunan rakyat 5,8 juta hektare atau 41,% dari total keseluruhan. Sementara total lahan yang dikuasai BUMN mencapai 715 ribu hektare atau sekitar 5 % dari total perkebunan sawit di indonesia.

Menurut data BPPS, lahan perkebunan kelapa sawit indonesia terus meningkat, setidaknya sejak tahuan 2000-an.

Luas area kelapa sawit menurut provinsi di indonesia 2015-2019

Provinisi

Pertumbuhan 2017 over 2016 (%)

2015

2016

2017

2018

2019**)

 

Aceh

428.216

370.076

534.245

547.123

566.378

44,36

 

Sumatera utara

1,427,021

1,342,523

1,706,135

1,745,900

1,773,049

27.08

 

Sumatera barat

383,385

378,440

478,317

492,666

508,974

26.39

 

Riau

2,400,876

2,012,951

2,703,199

2,739,571

2,806,349

34.29

 

Kepualauan Riau

19,013

7,409

23,714

24,041

24,834

220.07

 

Kepualauan bangka belitung

211,082

232,214

263,343

266,928

275,131

13.41

 

Bengkulu

288,914

285,096

360,448

366,731

377,052

26.43

 

Lampung

207,868

199,470

259,339

267,773

278,110

30.01

 

DKI Jakarta

 

Jawa Barat

14,083

17,294

17,420

17,622

17,907

0.73

 

Banten

19,284

19,448

20,258

20,631

20,989

4.16

 

Jawa Tengah

 

DI.Yogyakarta

 

Jawa Timur

 

Bali

 

Nusa tenggara Barat

 

 Nusa Tenggara Timur

 

Kalimantaran barat

1,144,185

1,264,435

1,504,787

1,532,598

1,570675

19.01

 

Kalimantan tengah

1,142,004

1,288,128

1,480,988

1,512,339

1,532,734

14.97

 

Kalimantan selatan

421,068

553,144

587,799

592,425

605,449

6.27

 

Kalimantan timur

849,609

1,021,314

1,059,990

1,083,286

1,107,437

3.79

 

Kalimantan utara

157,426

50,347

249,952

251,870

258384

396.46

 

Sulawesi utara

 

Gorontalo

11,138

5,992

17,280

17,766

18,494

188.38

 

Sulawesi Tengah

151,122

158187

188,534

189,461

191102

19.18

 

Sulawesi selatan

51,704

55,707

64,498

65360

66,798

15.78

 

Sulawesi barat

108154

150,309

188,648

196,625

205251

25.51

 

Sulawesi tenggara

45,759

69,029

71,129

71535

74900

3.04

 

Malu

10,050

10,054

12531

13,639

14,565

24.64

 

Maluku Utara

5,525

6,920

 7,676

 

Papua

50,834

 85,033

11,2638

11,7736

12,5606

32.46

 

Papua barat

50,999

59,680

85,543

91,536

97,459

43.34

 
 

Indonesia

11,260,277

    11,201,465

14,048,722

14,327,093

14,677,560

25.42

 

Dari potensi ekonomi, menurut kementan sepanjang 2018 produksi cpo indonesia mencapai 41,67 juta ton. Dari jumlah tersebut minyak kelapa sawit indonesia (crude palm oil/cpo) berhasil di ekspor sebesar 34 juta ton atau sekitar 270 T. Tujuan Ekspor CPO indonesia meliputi India, Eropa, cina, Pakistan, Bangladesh, dan negara – negara lainnya.

Dampak sosial ekonomi perkebungan kelapa sawit terhadap petani

Hasil perkebunan kelapa sawit tidak hanya mendatangkan devisa bagi negara lewat ekspor cpo tetapi lebih dari itu. Menurut hasil kajian bpdp.or.id, sektor perkebunan kelapa sawit merupakan sumber pendapatan dan penyedia lapangan kerja. Sejak perluasan perkebunan kelapa sawit pada tahun 1990 (1.126.677) menjadi 14,03 juta ha di tahun 2015. Dengan peningkatan perluasan tersebut telah menyerap tenaga kerja sebanyak lebih dari 16 juta orang  yang terdiri dari 12 juta orang di sektor industri dan 4 juta orang sebagai pekerja langsung.

Dari sisi pendapatan, hasil kajian PABSI (2014) dan World Growth (2011) menunjukkan hasil perkebunan kelapa sawit mampu menurunkan tingkat kemiskinan khususnya daerah pedesaan. Hasil kajuan tersebut menunjukkan ekonomi petani sawit lebih tinggi bila dibandingkan dengan ekonomi petani non sawit, dan tumbuh dengan pesat.

Kajian ini dilakukan di beberapa provinsi seperti sumatera utara, sumatera barat, riau, jambi, sumatera selatan, lampung, kalimantan selatan, dan kalimantan timur. Kajian ini dilakukan di akhir tahun 2016, dengan tujuan untuk menganalisis dampak kesejahteraan secara makro yang mencakup:

  • Perbandingan penghasilan petani sawit dengan petani non sawit
  • Perbandingan tingkat kemiskinan daerah sawit dan non sawit dan
  • Perbandingan IPM daerah perkebunan sawit dan non sawit.

Hasil fact finding menunjukkan sebagai berikut:

Tahun 2015, total lahan perkebunan kelapa sawit seluas 11,300,370 ha, rata-rata peningkatan sekitar 6,93% pertahun sejak tahun 2000. dari total luas lahan tersebut sebanyak 40,49 diusahakan atau dimiliki perkebunan rakyat (PR). Peningkatan ini perkebunan ini turut di dukung pemerintah melalui program PIR, yang merubah komposisi dari dominasi perkebunan negara pada tahun 1980-an menjadi menjadi perkebunan besar swasta & rakyat sejak tahun 2015

Sumber BPS indonesia
  • Program pemerintah lewat PIR tersebut dirasa belum mencukupi karena tidak diikutir dengan perkembangan produktivitas khususnya perkebunan sawit rakyat. Masalah produktivitas merupakan masalah utama yang dihadapi petani petani rakyat di indonesia. Salah satu penyebabnya adalah pemanfaatan bibit illegitimate, kurangnya informasi dan pengetahuan terhadap tata cara perkebunan yang benar, kurangnya sarana & prasaran yang memadai, serta akses perkebuna ke lokasi pabrik pengolahan kelapa sawit.
Sumber BPS indonesia
  • Dari sisi pendapatan yang merupakan indikator penting dalam mengukur tingkat kesejahteraan dilihat dari segi agregasi atau disaregasi. Dari segi agregasi menunjukkan perbandingan rata-rata pendapatan antara petani sawit dan petani non sawit. Di beberapa lokasi sentra sawit menunjukkan perluasan perkebunan kelapa sawit meningkatan pendapatan masyarakat dimana pendapatan masyarakat lebih tinggi dibandingkan dengan Upah minimun Provinsi (UMP) tertinggi di indonesia.
  • Melalui peningkatan pendpatan ini tentu akan menurunkan tingkat kemiskinan meski belum seluruhnya terjadi di indonesia.
Sumber BPS Indonesia
  • IPM merupakan indikator penting karena tidak hanya mencakup aspek ekonomi, akan tetapi kesehatan dan pendidikan. Aspek ekonomi dapat diukur melalui purchasing power parity (PPP), kesehatan rata-rata angka harapan hidup & pendidikan dari lama sekolah dan angka melek huruf. Tidak berbeda jauh dengna pendapatan IPM daerah sentra perkebunan kelapa sawit juga lPM lebih tinggi dibandingkan dengan daerah non sentra kelapa sawit.

Dari data – data tersebut diatas menunjukkan dampak positif dari perkebunan kelapa sawit dibandingkan petani non sawit yang begitu signifikan. Akan tetapi terdapat beberapa tantangan yang menjadi perhatian khususnya pemerintah dalam mengoftimalkan manfaat industri kelapa sawit seperti isu lahan, produktvitas, kualitas, fair trade, sustainability dll.

Sedangkan data dari gapki perkebunan kelapa sawit memegang peranan penting dalam pembangunan pedesaan. Melalui perkebunan kelapa sawit dapat memindahkan daerah tertinggal, pinggiran, terpencil, terisolasi, dan berpindah ke pusat pertumbuhan baru.

Melalui model  kemintraan sehamparan memungkin para investor untuk menjadi investor yang menarik (melalui efek langsung, efek industri, efek konsumsi yang di induksi) sektor lain, mengubah kota hantu menjadi pusat pertumbuhan baru di pedesaan.

Hasil penelitian yang dilakukan Amzul (2011) dan PASPI (2014) menunjukkan peningkatan produktivitas CPO di daerah pedesaan juga terkait serta memiliki dampak signifikat terhadap sektor pedesaan. Manfaat yang dirasakan dari peningkatan CPO ini tidak hanya dirasakan petani sawit saja, melainkan dapat dinikmati diluar petani sawite. Dengan kata lain, melalui pertumbuhan kelapa sawit rakyat dengan kemitraan dapat meningkatkan kapasitas ekonomi pedesaan guna menghasilkan output, pendapatan dan kesempatan kerja baik di perkebunan kelapa sawit yang ada di desa tersebut maupun di pedesaan lainnya.

Menurut PASPI, 2014 yang dikutip dari gapki setiap peningkatan produksi CPO 1% akan mengurangi tingkat kemiskinan sebesar 0,7%.

Menurut Geonadi (2008) lebih dari 6 juta orang yang terlibat dalam perkebunan kelapa sawit keluar dari kemiskinan. Selain itu peran penting lainnya dari sektor perkebunan kelapa sawit adalah sebagai sumber devisa bagi negara. Kontribusi ekspor kelapa sawit dalam valuta asing mencapai USD 18-20 miliar per tahun.

Dampak Perkebunan Kelapa Sawit

Selain mendatangkan devisa yang begitu tinggi bagi negara, meningkatan perekonomian khususnya di pedasaan, perkebunan kelapas sawit juga menyisakan sejumlah masalah seperti kebakaran hutan dan lahan yang kerap terjadi, kekeringan, menurunnya tingkat kesuburan tanah, hingga dampak negatif terhadap ekosistem lingkungan.

  1. Kebakaran hutan dan lahan

Dikutip dari situs resmi greenpeace, dari tahun 2015 sampai dengan 2018 jumlah hutan dan lahan yang terbakar mencapai 3.403.000 hektar (ha). menurut analisis burn scar (bekas terbakar) data resmi pemerintah pada tahun 2015 saja lebih dari 2.600.000 ha lahan terbakar. Diperkirakan kebakaran tersebut sebagai bencana lingkungan hidup terbesar di abda ke 21 ini. Bank dunia memperkirakan kerugian akibat kebarakan lahan tersebut mencapai  221 triliun rupiah dalam bentuk kerusakan hutan, sektor pertanian, pariwisata & industri lainnya.

Data cnnindonesia Jumat, 13/09/2019, kebakaran hutan dan lahan yang terjadi sumatera selatan, satgas karhutla sumsel menyebutkan sebagian besar lahan yang terbakar tersebut merupakan milik perusahaan.

Daerah dengan lahan terbakar paling luas adalah 1.066,29 di kabupaten musi banyuasin, 596,6 ha di ogan komering ilir 505,19 ha, ogan ilir 252,45, 249,25 ha di banyuasin.

Masih dari cnnindonesia Jumat, 13/09/2019, menteri LHK siti nurbaya bakar menyebutkan kebakaran di kalimantan setidaknya ada 4 perusahaan asing yang terlibat akibat kebakaran hutan dan lahan tersebut . situ juga menyebutkan nama-nama perusahaan tersebut,  PT Hutan industri miling singapura di ketapang, PT sime indoargo milik malaysia, PT sukses karya sawit  malaysia di ketapang dan PT Rafikamajaya abadi milik melawi.

 Siti nurbaya menambahkan setidaknya ada 103 perusahaan yang terkena sangsi akibat pembakaran hutan. Dari 103 ter tersebut telah ada 15 perusahaan masuk dalam penyidikan di Polda.

Menurut data CNBC indonesia 24 October 2019, gubernur Riau, Syamsuar menyebutkan pembukaan lahan hutan untuk perkebunan kelapa sawit merupakan akar masalahnya.

  1. Kabut asap

Ada istilah yang menyebutkan gak mungkin ada asap kalau tidak api. Yup, akibat kebakaran lahan gambut yang meluas di riau dan kalimantan cukup tebal hingga masuk dalam kondisi darurat.

Menurut data mongabay.co.id, kebakaran hutan dan lahan yang terjadi di berbagai wilayah indonesia menyisakan masalah seperti:

    • Beberapa wilayah di indonesia diselimuti kabut asap akibat dari karhutla dan menyebabkan aktivitas warga terganggu seperti transportasi dan mobilisasi
    • Kabut asap mengundang sejumlah gas & partikel kimia yang menyebabkan terganggungnya pernapasan.
    • Masalah saluran pernapasan akibat karhutla sebagaimana dirilis BNPB 2019 mencapai 919.516 orang

Selain data tersebut diatas, dampak kabut asap terhadap kesehatan yang dirangkum dari berbagai situs sebagai berikut:

    • Batuk dan iritasi pada tenggorokan

Seorang yang menghirup udara tercemar asap kebakaran memungkinkan akan mengalami batuk dan iritasi tenggerokan. Umumnya penderita akan merasakan efek bagi pernapasan selang beberapa jam. Akan tetapi untuk sistem pernapasan dapat saja berlangsung dalam waktu lama meski gejala telah menghilang.

    • Berdampak terhadap fungsi jantung

Partikel yang terdapat pada kabut asap beresiko tinggi menginfiltrasi aliran darah dengan demikian berdampak terhadap jantung. Hal ini terjadi dikarenakan partikel yang terdapat dalam kabut asap biasanya amat kecil yakni kurang dari 10 mikrometer. Semakin kecil ukuran partikel akan semakin besar resiko yang ditimbulkan.

    • Terhadap paru – paru

Penyakit Asma & PPOK berpotensi menjadi semakin parah bila menghirup udara kabut asap. Hal ini telah dibuktikan dengan penelitian di Thailand yang menunjukkan bahwa pada musim kabut asap, jumlah kunjungan di unit gawat darurat terkait kambuhnya gejala penyakit asam dan PPOK juga meningkat. Hal ini disebabkan zat yang terkandung dalam kabut asap memiliki sifat iritatif & menyebabkan paru-paru meradang.

    • Terhadap mata dan penglihatan

Kabut asap dapat menyebabkan iritas pada mata, akibat debu & zat iritatif. Untuk menghindari hal ini sebaiknya sediakan obat tetes dan jangan lupa menggunakan kacamat bila bepergian keluar rumah.

    • Terhadap kulit

Kabut asap tidak hanya menyerang terhadap organ dalam tubuh seperti sistem pernapasan & jantung, akan tetapi kabut asap berdampak terhadap kerusakan kulit. Kerusakan terhadap kulit terjadi melalui timbulnya iritasi dan peradangan pada jaringan kulit. Hal ini telah dibuktikan melalui penelitian, bahwa kabut asap dapat meningkatkan risiko penuan dini kulit, jerawat, kanker kulit, dan memberatnya eksim dan psoriasis.

  1. Rusaknya Ekosistem dan Keragaman Hayati

Kebakaran hutan dan lahan yang terjadi disejumlah daerah berdampak serius terhadap kerusakan ekosistem dan keragaman hayati.

Kerusakan yang tampak nyata terdapat di enam provinsi yang paling banyak terbakar. Menurut data BNPB rilis 3 oktober 2019 menunjukkan luas hutan terbakar:

    •  Provinsi riau (49.266 ha/ september),
    •  Jambi (11.022 ha/september),
    • Sumatera selatan (11.826 ha/september),
    • Kalimantan barat (25.900 ha/september),
    • Kalimantan Tengah (44.769 ha/ september),
    • Kalimantan selatan (19.490 ha / september).

Kelapa sawit juga termasuk dalam ekosistem hayati layaknya hutan. Hewan-hewan dapat hidup diperkebunan kelapa sawit pun rata-rata huwan perusak, seperti ular, tikus, babi, bila dibandingkan dengan kelapa sawit, hutan jauh lebih berguna keberadaannya.

  1. Banjir dan kekeringan

Konversi hutan alam menjadi perkebunan kelapa sawit tidak jarang menyebabkan bencana alam seperti banjir dan kekeringan bahkan tanah longsor. Di beberapa wilayah indonesia kesululitan air bersih ketika terjadi kemarau meskipun kemaraunya tidak berlangsung lama. Hal ini karena sifat pohon kelapa sawit menyerap banyak unsur hara dan air dalam tanah.

  1. Munculnya hama migran baru yang begitu ganas

Hama migran muncul biasanya dikarenakan ekosistem yang tergangganggu. Jenis hama ini mencoba mencari habitat baru akibat adanya kompetisi yang begitu besar dengan fauna lainnya. Hal ini bisa terjadi karena keterbatas lahan dan jenis tanaman akibat monokulturasi.

  1. Kerusakan unsur hara dan air dalam tanah

Meski sudah banyak diproses hukum bahkan dinyatakan bersalah di pengadilan tentang larangan membakar hutan tetap saja kebiasaan tersebut tidak kunjung hilang. Ariful Amri Msc, dari universitas Riau pernah melakukan penelitan tentang kerusakan tanah akibat perkebunan kelapa sawit. Dalam penelitian tersebut menyimpulkan, dalam satu hari satu batang pohon sawit menyerap 12 liter unsur hara dan air dalam tanah.

  1. Terjadi konflik horizontal dan vertikal antar warga

Medio 2014 silam, beberapa warga dikalimantan terlibat bentrok dengan aparat akibat tanah kepemilikan mereka dialihfungsikan dengan perkebunan kelapa sawit. Selain terdapat juga konfilik antar warga yang menolak dan yang menerima masuknya perkebunan kelapa sawit di daerah mereka.